Archive for January, 2007

bagus buat yng sdh berumah tangga

Monday, January 29th, 2007

Untukmu
Yang Selalu Setia

Hari itu
di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat

yang
kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara

begitu
banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan

kerudung
berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput

kesedihan.

 

Pada saat
penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang

lahat,
wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian

mencium
bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar

dengan
perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan

di antara
para pelayat menyaksikan adegan itu.

 

Wanita
itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur.

Setelah
acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat

duka cita
kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan

senyuman
manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah

pada saat
yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

 

Kudekati
wanita itu.

 

"Kak,
yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di

sisi-Nya,"
ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa

penasaran
menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu

tidak
kuungkapkan.

 

Beberapa
hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu.

Kudapati
ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering

dilakukannya.
Kusapa dia dengan wajar, "Assalaamu’alaikum, sedang sibuk

kak?"
tanyaku

 

"Wa’alaikusallam…
Oh adik, ayo duduk dulu," jawabnya seraya

membereskan
perlengkapan tanaman.

 

"Saya
mengganggu kak?" tanyaku lagi,

 

"Kenapa
harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk

dzikir
nanti malam," jawabnya.

 

Sesaat
setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami.

Dengan
hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal

di
hatiku. "Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian

abang?"
tanyaku.

 

Dia
menatapku dan berkata, "Kenapa adik bertanya seperti itu?"

 

Aku tidak
segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, "Karena

kakak
justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat

pemakaman
dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang,"

ujarku.

 

Dia menatapku
lagi dan menghela nafas panjang. "Apakah kesedihan selalu

berwujud
air mata?" Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab.

Kemudian
dia meneruskan kembali perkataanya. "Kami telah bersama sekian

lama,
sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai,

tapi aku
juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang

suami.
Dan kegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika

berhadapan
dengan tugasku sebagai seorang istri," katanya tenang.

 

"Maksud
kakak?" aku tambah penasaran.

 

"Sebuah
kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga

berwujud
senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi

bahagia
sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik,

yang
tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran.

Dia
selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak

banyak
hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari

bahkan
dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak

saling
menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di

pakaian
yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab,

karena
abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi

kakak
dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi

kakak.
Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang

tidak
sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi …"

 

Dia
menghentikan kata-katanya.

 

"Tapi
apa kak?" kejarku.

 

"
Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis," katanya

tersenyum.

 

"Kenapa?"
tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

 

"Sebagai
seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat

kakak
sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga

seorang
suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi

dia
selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat

hamba
yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi."

 

Wanita itu
melanjutkan, "pada satu malam setelah kami sholat malam

berjamaah,
abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang

berkata
pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih

dahulu,
masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi

akan
merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib

menuruti
kata-kata abang."

 

"Pemakaman
bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari

perjalanan,
kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini

kakak
mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang

yang kita
cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang

lah yang
pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya,

abang
selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan

abang
selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih

memanggil
apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya.

Dalam
syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih

melihat
abang bahagia," sambungnya.

 

Tanpa
memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus

mengalir
dari wanita itu,

 

"Kakak
bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir

kakak
melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia

maupun di
akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang

karena
abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk

kakak
yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak

jika kita
tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih

karena
sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di

akhirat
nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah.

Dan abang
telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya

dik
semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak

sayang
abang dan kakak ingin bertemu abang lagi."

 

Kali ini
kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak

mampu
berkata-kata lagi.

 

#diambil
dari milis kafe muslimah

menegangkan

Monday, January 29th, 2007

* Ya Gitu
Dech By: (iva_sativa) voted: 193 Cerita Lucu - vote

Karena
asik memotret sunset dan mengeksplorasi wilayah yang baru pertama kali dia
kunjungi, seorang travel photografer baru menyadari bahwa dia sudah tersesat
dan ditinggal oleh rombongannya. Dan tanpa disangka-sangka, hujan badai turun!,
Spontan fotografer itu bete abis… udah tersesat, gelap, ujan pula…

 

Tapi
akhirnya timbul harapan… Di ujung jalan dia melihat lampu mobil
perlahan-lahan mendekat. Tidak mau kehilangan kesempatan, dia melambaikan
tangannya untuk meminta tumpangan.

 

Ketika
mobil tersebut mendekat, tanpa mau membuang waktu, sang fotografer langsung
naik ke mobil, duduk dan kaget!!! Karena dia baru menyadari bahwa mobil
tersebut tidak ada yang mengemudikan.

 

Tapi
daripada bete, fotografer tersebut tetap bertahan berada di dalam mobil, sambil
berdoa (menurut agamanya masing-masing).

 

Dalam
perjalanan di dalam mobil yang berjalan dengan pelan sekali, ketika mobil
sepertinya akan menabrak pohon atau jatuh ke jurang, tiba-tiba muncul sebuah
tangan dan mengendalikan setir agar mobil tidak menabrak atau jatuh. dan hal
tersebut terus terjadi berulang kali.

 

Akhirnya,
ketika mobil mendekati sebuah warung kopi, fotografer tersebut buru2 turun dan
memesan secangkir kopi (gak mahal kayak yang di setiabudi building, kopi mahal,
he6x). Sambil menangis terisak-isak, fotografer tersebut menceritakan kejadian
seram yang baru saja dia alami.

 

Setelah
selesai bercerita, fotografer tersebut akhirnya pingsan kelelahan dan juga
karena menahan rasa takut.

 

Mendadak,
dua orang berpakaian kotor dan basah kuyup masuk ke dalam warung kopi dan
melihat sang fotografer yang sedang pingsan. Spontan salah satu dari mereka
berkata, "Itu dia kampret yang numpang di mobil yang lagi kita
dorong!"

kuliah

Friday, January 26th, 2007

pertama gw kuliah 3 bulan pertama doang gwe semangat,….:(,  kesini"nya perasaan capeeeeeekkk….. banget,….hufff……gwe pikir kuliah kelas karyawan tu enak, santai, n gak neko", eh gak taunya,…..ABCD,…;))…. tugas banyak, gak masuk nilai berkurang, wah pokoknya repot dah gak seperti yang gwe bayangin,…. [-o<Ya Allah teguhkanlah hati ku ya Allah Agar aku bisa menyelesaikan kuliah ku……[-o<Aminnnn…

bacanya ampe abis ya… bagus lho..

Wednesday, January 24th, 2007

Catatan
Harian Seorang Pramugari

 

Saya
adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan
perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang
mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang
monoton.

 

Pada tanggal
7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan
pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

 

Hari ini
jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat
penuh pada hari ini.

 

Diantara
penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan
terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu
pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman
sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik
pesawat.

 

Ketika
pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke
20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku
ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

 

Kami
menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak,
kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga
ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian
makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan
makanan juga ditolak olehnya.

 

Akhirnya
kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara
kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat
boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

 

Kami
menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh
seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua
kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah,
dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia,
ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak
usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini
dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan
kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya,
katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air
kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada
saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan
kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat
sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan
itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

 

Setelah
kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum
secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

 

Dia
menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung
sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking.
anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal
bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota
akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk
putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik
mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani
bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu
boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri
akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

 

Dengan
merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika
melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut
ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh
ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang
sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas
bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan
karung tersebut.

 

Saat
dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas
dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan,
meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat
hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan
kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia
mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin
membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

 

Menurut
kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa
menjadi begitu berharga.

 

Dengan
menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami
mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada
penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek
tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya
menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya
sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan
menjadi pelajaran berharga bagi saya.

 

Sebenarnya
kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada
saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di
pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia
melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya,
yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan
bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik
yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum
air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak
memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak
tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas
kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya.
Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang
bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama
5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai,
yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai
orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan
tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan,
tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami
mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering
dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak
bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya
sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa
datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap
menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Keutamaan Al Qur’an

Tuesday, January 23rd, 2007

15
Keutamaan Al Qur’an dalam Hadits

 

 

1. Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku
mendengar Rasulullah saw. Bersabda, “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan
dating di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya” (Riwayat
Muslim)

 

2. Dari Nawwas bin Sam’an ra. telah
berkata: Aku mendengar Rosululloh saw. bersabda, “Diakhirat kelak akan
didatangkan Al Qur’an dan orang yang membacanya dan mengamalkannya, didahului
dengan surat Al Baqoroh dan Surat Ali “Imron, kedua-duanya menjadi hujjah
(pembela) orang yang membaca dan mengamalkannya.” (Riwayat Muslim)

 

3. Dari Usman bin ‘Affan ra. telah berkata:
Rasululloh saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah orang yang
mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Bukhari)

 

4. Dari Aisyah ra. telah berkata: Rosulloh
saw. bersabda,” Orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata karena susah,
akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

 

5. Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. telah
berkata: Rasulullah saw. bersabda,”Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al
Qur’an seperti buah Uttrujah (sejenis limau), baunya harum dan rasanya sedap.
Dan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak ada
baunya dan rasanya manis.

Dan
perumpamaan Orang munafik yang membaca Al Qur’an seperti Raihanah (jenis
tumbuhan), baunya wangi tapi rasanya pahit.

Dan orang
munafik yang tidak membaca AL Qur’an seperti buah hanzal (seperti buah pare),
tidak berbau dan rasanya pahit. (Riwayat Bukhari & Muslim)

 

6. Dari Umar bin al Khattab ra. bahwa Nabi
Muhammad saw. bersabda, sesungguhnya Alloh mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian lainnya
dengan sebab Al Qur’an.” (Riwayat Muslim)

 

7. Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Muhammad
saw. telah bersabda, “ Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara : Laki-laki
yang dianugrahi (kefahaman yang sahih tentang) Al Qur’an sedang dia membaca dan
mengamalkannya siang dan malam, dan laki-laki yang dianugrahi harta sedang dia
menginfakkannya siang dan malam.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

 

8. Dari Barra’ bin ‘Azib ra. telah berkata:
Seorang laki-laki membaca surat AlKahfi dan disinya ada seekor kuda yang diikat
dengan dua tali panjang, tiba-tiba ada awan yang melindunginya dan semakin
mendekat dan kudanya menjauhinya. Pagi-paginya laki-laki itu mendatangi Nabi
Muhammad saw. dan menceritakan peristiwa tersebut, maka beliau bersabda, “itu
adalah ketenangan yang turun karena Al Qur’an.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

 

9. Dari Ibnu ‘Abbas ra. beliau berkata:
Rasululloh saw. bersabda, “ Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya
sesuatu pun dari Al Qur’an laksana sebuah rumah yang runtuh.” (Riwayat Turmuzi,
beliau berkata: Hadits ini hasan dan sahih)

 

10. Dari Abdullah bin Amru bin Al’Ash ra. dari
Nabi Muhammad saw. beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada orang yang membaca
Al Qur’an: Baca, tingkatkan dan perindah bacaanmu sebagaimana kamu memperindah
urusan didunia, sesungguhnya kedudukanmu pada akhir ayat yang engkau baca.”
(Riwayat Abu Daud dan Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan dan sahih)

 

11. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra. berkata:”
Rosululloh saw. keluar dan kami berada di beranda masjid. Beliau bersabda:”
Siapakah diantara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau ‘Aqiq dan
kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa
dan tidak memutuskan hubungan silaturrahmi ?” kami menjawab,” Kami ingin ya Rasululloh”
Lantas beliau besabda, “Mengapa tidak pergi saja ke Masjid; belajar atau
membaca dua ayat Al Qur’an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga
ayat lebih baik dari tiga ekor unta dan empat ayat lebih baik dari empat ekor
unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta.” (Riwayat Muslim)

 

12. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Nabi
Muhammad saw bersabda,”Yang paling layak mengimami kaum dalam shalat adalah
mereka yang palin fasih membaca Al Qur’an.” (Riwayat Muslim)

 

13. Dari Jabir bin Abdullah ra.
bahwasanya:Ketika Nabi Muhammad saw. mengumpulkan dua mayat laki-laki diantara
korban perang Uhud kemudian beliau bersabda, “ Siapa diantara keduanya yang
lebih banyak menghafal Al Qur’an?” dan ketika ditunjuk salah satunya beliau
mendahulukannya untuk dimasukkan kedalam liang lahad. (Riwayat Bukhari,
Tirmizi, Nasa’i & Ibnu Majah)

 

14. Dari Imran bin Hushoin bahwa beliau melewati
seseoarang yang sedang membaca Al Qur’an kemudian berdo’a kepada Alloh lalu ia kembali membaca, lantas ia berkata
aku pernah mendengar Rosululloh saw. bersabda, “Barang siapa yang membaca Al
Qur’an maka berdo’alah kepada Alloh denagn Al Qur’an karena sesunbgguhnya akan
dating beberapa kaum yang membaca Al Qur’an dan orang-orang berdo’a dengannya.”
(Riwayat Tirmizi, beliau berkata : Hadits ini hasan)

 

15. Dari Ibnu Masud ra. ia berkata: “Barang
siapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu
kebaikan sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud ‘Alif laam miim satu
huruf melainkan Alif satu huruf lam satu huruf dan miim satu huruf. (Riwayat Ad
Darami dan Tirmizi, beliau berkata hadits ini hasan sahih)

Untuk Mu Ibu

Tuesday, January 23rd, 2007

Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan

(Emha Ainun Najib) Siang sudah sampai pada
pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas
saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama.
Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga
mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu
sudah pulang"
itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati
ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.

Ba’da Ashar,
"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya
angkat
pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. "Ah
mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya "Eh,
tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih
ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke
halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu.
Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar
yah" pinta Ibu.
"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu
yang
tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan,
biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang
dari ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya.
"Bu, siapa itu.?" tanya saya. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu
sekarang"
pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka
mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah
tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya
tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang
terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf
al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput,
urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun.
Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal
yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia
minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan
banyak hal?
"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di
pangkuannya.
Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya.
Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak
berhingga.

Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya
memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang
dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya
pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. "Duh Allah, sayangi
Mamah"
spontan saya memohon. "Neng." suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini
tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya
rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.
"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu
tersenyum
maniss sekali.

"Penyakit orang tua"

"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit
tenaga" tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap
berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras
depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan
beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu
sehabis shalat isya tadi.
Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal
yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah
mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan
yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya
tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut
ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh.
Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian
yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita
berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil
yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya,
suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya
mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m
nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung.
Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri.
Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana, Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu, Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari
sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda
adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta,
ketulusan..
Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan
untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika
mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki
hidup?
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat
tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan
tangannya?.. Pernahkah. .?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu,
ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih
perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu
yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan.
Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak
lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi,
saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk
seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa
waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim.
Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya,
meletakannya di kening.

***
Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat
tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini.
Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang
menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka,
usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia.
Inilah saatnya, inilah masanya.
Taken from : Dudung.net (Unknown author) (Thanks Ibuku, You’re my
hero……….I’ ll try now to make you smile, the more
I try it, the more You give me love…..I don’t know how to say
more….mugi2 diparingi Gusti Alloh rahmat lan keslametan,nyuwun
pangapunten putramu moko)

teman atau sahabat

Tuesday, January 23rd, 2007

ada satu perbedaan antara menjadi seorang teman/kenalan dan seorang
sahabat

pertama, seorang teman adalah orang yang namanya kau ketahui, yang kau lihat

berkali-kali, yang bersamanya mungkin kau miliki persamaan, dan disekitarnya
kau merasa aman.

Ia adalah orang yang kau undang ke rumah mu dan dengan nya kau berbagi. Namun
mereka adalah orang yang yang dengan nya tidak akan kau bagi hidup mu, yang
tindakan-tindakan nya kadang-kadang tidak kau mengerti karena kau tidak cukup
tahu tentang mereka.

sebaliknya, seorang sahabat adalah seorang yang kau cintai, bukan karena kau
jatuh cinta pada nya, namun kau peduli akan orang itu, dan kau memikirkan nya
ketika mereka tidak ada.

sahabat-sahabat adalah orang dimana kau diingatkan ketika kau melihat sesuatu
yang mungkin kau sukai dan kau tahu itu karena kau mengenal mereka dengan baik.

mereka adalah orang yang diantara nya kau merasa aman karena kau tahu mereka peduli
terhadap mu.

mereka menelepon hanya untuk mengetahui apa kabar mu, karena sahabat
sesungguhnya tidak butuh suatu alasan pun.

mereka berkata jujur pertama kali dan kau melakukan hal yang sama. kau tahu
bahwa jika kau memiliki masalah mereka akan bersedia mendengar.

mereka adalah orang-orang yang tidak akan menertawakan mu atau menyakiti mu,
dan jika mereka benar-benar menyakiti mu, mereka akan berusaha keras
memperbaikinya.

mereka adalah orang-orang yang kau cintai secara sadar ataupun tidak.

mereka adalah orang-orang dengan siapa kau menangis ketika kau tidak diterima
diperguruan tinggi dan selama lagu terakhir dipesta perpisahan kelas dan saat
wisuda.

mungkin mereka adalah orang yang memegang cincin pernikahan mu, atau orang yang
mengantarkan/ mengiring mu pada saat pernikahan mu, atau mungkin adalah orang
yang kau nikahi.

Bagus Wat dibaca

Friday, January 19th, 2007

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya:
"Allah.“…”
(Q. S. Ar Ra’d (13) : 16)

RINGKASAN PENGANTAR KAJIAN MA’RIFATULLAH

Pembahasan ini merupakan pembahasan yang wajib diketahui oleh setiap muslim,
sebagaimana wajibnya seorang muslim untuk mengenal Tuhannya, Allah Swt.
Pembahasan ini merupakan pengantar dari kajian Ilmu Tauhid (Ke-Esa-an Allah
Swt.) dan berdampingan dengan pembahasan mengenai Ma’rifatul Insan (mengenal
manusia). Diharapkan dengan menguasai kajian-kajian tersebut seorang hamba
dapat lebih mengenal dirinya sebagai hamba dan bagaimana seharusnya bersikap
sebagai hamba, dan juga lebih mengenal Tuhannya, Allah Swt., sehingga ia
mengetahui bagaimana ia bersikap di hadapan Tuhannya serta beribadah sesuai
dengan apa yang dikehendaki Nya menurut apa yang disukai Nya.

Sebagai contoh dari harapan pembahasan ini adalah mengenal (salah satu) Sifat
Allah Swt., bahwa Ia Swt. adalah Maha Besar dan sebaliknya bahwa manusia penuh
dengan kelemahan. Setelah mengetahuinya diharapkan seorang hamba akan dapat
merasakan Kebesaran Allah Swt. dan merasakan kelemahan dirinya sehingga tidak
ada lagi padanya sifat sombong, merasa hebat, merasa besar, merasa paling benar
dsb.

Begitu pula dengan memahami bahwa Allah Swt. adalah Sang Pemberi Rezeki
misalnya, maka diharapkan dapat menghilangkan pula sifat ketergantungan seorang
hamba kepada hamba yang lainnya dari sisi ekonomi yang menyebabkannya dapat
terjajah baik secara fisik, ideologi, pemikiran, sosial, politik atau yang
lainnya.

I. LINGKUP PEMBAHASAN
Dalam materi (awal) Ma’rifatuLlah ini lingkup pembahasan dibatasi kepada
pengertian Rabb, di mana Allah Swt. adalah Rabb seru sekalian alam. Adapun
pengertian Rabb adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengatur dan Pemberi
Rezeki, di mana kita sebagai muslim mengetahui dan meyakini permasalahan ini
adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi.

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya:
"Allah.“…”
(Q. S. Ar Ra’d (13) : 16)

“Allah menciptakan segala sesuatu…” (Az Zumar (39) : 62)

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah-lah
yang memberinya rizkinya…”
(Q. S. Hud (11) : 6)

“Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di
bumi?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas
diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari
kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya,
mereka itu tidak beriman.”
(Q. S. Al An’aam (6) : 12)

Pengertian Allah Swt. sebagai Rabb seru sekalian alam ini pun diakui oleh
orang-orang kafir jahiliyyah sebagaimana tertera dalam ayat:

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan
mereka, niscaya mereka menjawab: ’Allah’,…”
(Q. S. Az Zukhruf (43) : 87)

Bahkan iblis, makhluk yang telah dilaknat Allah Swt. seperti yang tertera dalam
Al-Quran, juga mengakui hal ini sebagaimana tertera dalam ayat berikut:

“…Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia
Engkau ciptakan dari tanah.”
(Q. S. Al A’raaf (7) : 12)

Dari sini terlihat bagaimana sangat mengherankan jika kita melihat dalam
kenyataan, adanya orang yang tidak mengakui keberadaan Allah Swt. atau tidak
mengakui Allah Swt. sebagai Pencipta (na’uudzubiLlah). Karena seperti terlihat
jelas dalam ayat di atas, bahkan iblis pun mengakui bahwa Allah Swt. telah
menciptakannya dari api. Dalam ayat tersebut pun terlihat bagaimana iblis juga
mengakui bahwa kelebihan yang dimilikinya merupakan pemberian murni dari Allah
Swt. (namun iblis menolak taat kepada Allah Swt. yang menyebabkannya menjadi
terlaknat – na’uudzubiLlah). Lalu dimanakan derajat orang yang tidak mengakui
eksistensi Allah Swt.? Sekali lagi: Na’uudzu biLlahi min dzaalik.

II. KEKUATAN DALIL
Eksistensi Allah Swt. sebagai Rabb seru sekalian alam ini dikuatkan oleh
berbagai dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat yang telah disiapkan Allah Swt.
untuk manusia dalam berbagai bentuk bagi orang-orang yang mau menggunakan
akalnya dan menggunakan petunjuk yang telah diberikan kepadanya.

a. Dalil Naqli (Al Quran dan As Sunnah)
Begitu banyak dalil dalam Al Quran yagn menyatakan bahwa Allah Swt. adalah
Pencipta, Pemelihara, Pengatur, Penguasa seluruh alam semesta seperti yang
telah banyak disebutkan di atas. Dalam firman Nya yang lain, bahkan Allah Swt.
memperkuat persaksiannya seperti terlihat dalam ayat:

Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?"
Katakanlah: "Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an
ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu
mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?" Katakanlah:
"Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan
Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu
persekutukan (dengan Allah)".
(Q. S. Al An’aam (6) : 19)

b. Dalil ‘Aqli (Rasio / akal)
Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”
(Q. S.
Ali ‘Imraan (3) : 190)

Begitu banyak bukti Kebesaran Allah Swt. yang dengan mudah akan kita dapati di
sekeliling kita, atau bahkan lebih dekat lagi, yaitu pada diri-diri kita.
Bagaimana Allah Swt. telah dengan sempurna menciptakan alam raya ini dengan
sedemikian teraturnya, sedemikian sempurnyanya yang semuanya tidak lain hanya
menunjukkan Kebesaran Nya semata.

Seorang cendekiawan Turki terkemuka, Harun Yahya, dalam salah satu karyanya
menerangkan bagaimana fakta penciptaan yang ada sangat menunjukkan keberadaan
Sang Pencipta, Allah Swt. Hal ini dapat dilihat dalam sebuah contoh kasus
sederhana, di mana beberapa makhluk tertentu (serangga, dari salah satu jenis
lalat) memiliki kemampuan untuk menyerupai makhluk lain yang dapat
menakut-nakuti hewan pemangsa.

Dari contoh kasus kecil ini terlihat bagaimana seekor serangga kecil yang tidak
memiliki jaringan otak yang memadai untuk berpikir dapat melakukan sebuah aksi
yang menakjubkan dalam mengusir pemangsanya dengan menyerupai hewan lain yang
ditakuti oleh si pemangsa.

Pertanyaannya adalah: Riset seperti apakah yang sudah dilakukan si serangga
tersebut sehingga ia bisa mengetahui apa yang ditakuti lawannya dengan otaknya
yang sedemikian kecilnya? Berapa lama dia melakukan riset tersebut padahal
kebanyakan serangga hanya berumur beberapa minggu saja? Dari manakah ia
mendapatkan data tentang hewan yang ditakuti pemangsanya tadi? Dan jika semua
itu telah didapat, bagaimanakah ia mempersenjatai dirinya dan melengkapi
dirinya dengan perangkat-perangkat yang dapat membuatnya menyerupai hewan yang
ditakuti pemangsa tadi (padahal perangkat tersebut tidak lain adalah anggota
tubuhnya sendiri yang telah dimilikinya sejak ia ada di muka bumi ini)?

Sungguh, dalam setiap penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda Kebesaran
Allah Swt. bagi orang-orang yang berakal. Benarlah Allah Swt. dan Rasul Nya
saw.

c. Dalil Fithrah (Bukti Fitrah)
Setiap fitrah manusia yang lurus akan mengakui keberadaan Rabbnya dan Rabb seru
sekalian alam, Allah Swt. Hal ini digambarkan oleh NabiyuLlah Ibrahim as.
ketika dalam ‘masa pencarian’nya seperti terlihat dalam ayat berikut:

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia
berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
“Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala melihat bulan terbit
dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:
“Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku
termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit,
dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu
telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan
yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan
aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.”
(Q. S. Al
An’aam (6) : 76 – 79)

Selain itu, jauh sebelum manusia diturunkan ke muka bumi, Allah Swt. telah
mengambil persaksian dari setiap jiwa untuk mengakui Allah Swt. sebagai
rabbnya. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Quran pada ayat:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
(Q. S. Al
A’raaf (7) : 172)

III. BUAH DARI MENGENAL ALLAH SWT.
Hasil yang diharapkan dari kita mengenal Allah Swt. adalah bertambahnya iman
dan takwa kita kepada Nya, yang semuanya tercermin dalam setiap betikan hati
kita – baik dalam niat ataupun yang lainnya, tutur kata kita dan tingkah laku
serta amalan kita. Hal ini menyebabkan kita dapat meraih manfaat-manfaat besar
lainnya yang Allah Swt. anugerahkan , baik di dunia maupun di akhirat.

1. Manfaat Di Dunia
a. Al-Hurriyah (Kebebasan) dan al-Amn (Keamanan)
Kebebasan bagi orang yang mengenal Allah Swt. didapatnya dengan bebasnya diri
hamba tersebut dari keterikatan dan ketundukan kepada selain Allah Swt. Dengan
mengenal Allah Swt. sebagai Pemberi Rezeki contohnya, dapat menjadikannya bebas
dari sifat-sifat rendah seperti tamak, keinginan memiliki yang bukan miliknya
atau bebas dari keterjajahan dari negara penghutang misalnya. Mereka pun merasa
aman karena mengetahui bahwa Allah Swt. adalah Pengatur segala sesuatu yang
tidak akan terjadi sesuatu pun melainkan dengan Kehendak Nya semata, sementara mereka
merasakan jaminan perlindungan Nya disebabkan keimanan mereka. Allah Swt.
berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan
kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka
itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Q. S. Al An’aam (6) : 82)

b. Ath-Thuma’niinah (Ketenangan)
Ketenangan ini merupakan anugerah Allah Swt. yang diberikan kepada siapa saja
yang dikehendaki Nya dari hamba-hamba Nya yang senantiasa berdzikir kepada Nya,
di mana hal ini tidak mungkin terjadi jika seorang hamba tidak mengenal Nya.
Allah Swt. berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram.”
(Q. S. Ar Ra’d (13) : 28)

c. Al-Baraakaat (Keberkahan)
Allah Swt. menjanjikan keberkahan ini bagi negeri-negeri yang penduduknya
beriman dan bertakwa dalam firman Nya:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.”
(Q. S. Al A’raaf (7) : 96)

d. Al-Hayah ath-Thayyibah (Kehidupan yang Baik)
Allah Swt. berfirman:

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(Q. S.
An Nahl (16 : 97)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik ra., dia berkata bahwa RasuluLlah
saw. bersabda: “Allah tidak menzhalimi suatu kebaikan bagi seorang mukmin.
Kebaikan itu diberikan kepadanya di dunia dan diberikan pula pahalanya di
akhirat. Adapun orang kafir, maka diberi makan di dunia karena aneka
kebaikannya, sehingga apabila dia telah tiba di akhirat, maka tiada satu
kebaikan pun yang membuahkan pahala.”
(H. R. Muslim)

2. Manfaat Di Akhirat
a. Al-Jannah (Surga)
Selain manfaat di dunia, Allah Swt. juga menjanjikan tempat kembali yang baik
bagi orang-orang yang mengenal Nya sesuai yang dikehendaki Nya, serta beramal
dengan ilmunya dengan beribadah kepada Nya sesuai yang dikehendaki Nya dan
disukai Nya. Janji Allah Swt. ini termaktub dalam ayat:

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang
dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat
baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak
ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga,
mereka kekal di dalamnya.”
(Q. S. Yunus (10) : 25 – 26)

b. MardhatiLlah (Keridhaan Allah Swt.)
Allah Swt. berfirman tentang janji keridhaan Nya ini dalam ayat:

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah
(balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”
(Q. S. Al Bayyinah (98) : 8)

Demikianlah, bahwa Ma’rifatuLlah (mengenal Allah Swt.) adalah sebuah ilmu yang
wajib difahami oleh setiap muslim yang dengannya (dan mewujudkannya dalam
kehidupan sehari-hari) dapat menghantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan
yang dijanjikan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengenal Nya
sebagaimana Ia Swt. menginginkan kita mengenal Nya. Hanya kepada Nya lah kita
menyembah dan hanya kepada Nya pulalah kita memohon pertolongan. Tiada daya dan
kekuatan selain dari Nya Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.